Bersepeda di Fujikawaguchiko

Fujikawaguchiko yang berada di kaki gunung Fuji menyimpan banyak pesona. Karena menawarkan pemandangan danau, perbukitan, dan gunung Fuji sekaligus. Bagaimana cara menikmatinya? Jalan kaki lelah, sewa mobil tidak punya sim. Ya sudah, sepeda.

Sewa Sepeda di Fujikawaguchiko

Di dekat Kawaguchiko Station Inn terdapat penyewaan sepeda.

tarif sewa sepeda di fujikawaguchiko
Tarif sewa sepeda di salah satu tempat penyewaan sepeda di Fujikawaguchiko.

Gw pilih Sports bike, sepeda gunung lengkap dengan girbox. Teman-teman gw yang berbadan gemuk pakai sepeda elektrik. Sepeda listrik ini tidak 100% mengandalkan tenaga listrik, alias hybrid: dibantu dengan tenaga “2 silinder kaki”, cukup gowes sedikit, maka sisanya dibantu oleh baterai, torsi sepeda listrik ini terasa kuat lho.

Menuju danau Kawaguchiko

Tujuan utama kami adalah danau Kawaguchiko. Jalanan di kota Fujikawaguchiko ini naik turun, butuh tenaga ekstra bagi yang sepeda tenaga murni “2 silinder”, bagi yang pakai sepeda¬†hybrid tentu tanjakan terasa enteng.

Anyway, Kami menelusuri sisi tenggara danau. di sisi ini juga menjadi titik kumpul wisatawan, karena letaknya dekat dengan stasiun, dan terdapat tempat parkir luas, bus-bus dari daerah juga terlihat ngumpulnya disini.

pinggir danau kawaguchiko
Dedaunan berwarna kemerahan khas musim gugur, biarpun udara dingin tapi matahari cukup terik.

Di sepanjang pesisir danau itu didesain oleh pemerintah setempat ada jalan setapak yang bisa dilewati pedestrian dan sepeda. Ada tukang jajanan? Tidak ada! Kalau di Indonesia mungkin sudah ramai pedagang kaki lima.

jalan setapak pinggir danau fujikawaguchiko
Jalan setapak di pinggir danau Kawaguchiko (by Calvin Chan).

Singgah di restoran pinggir danau Kawaguchiko

restoran pinggir danau kawaguchiko
Restoran Tsujiya di pinggir danau Kawaguchiko.

Jam makan siang, saatnya isi bahan bakar. Di salah satu restoran di pinggir danau ini kami memesan menu ala jepang, tapi ada yang unik disini. Ada DAGING KUDA MENTAH! Disebutnya Basashi.

basashi daging kuda mentah
Daging kuda mentah, karena ini di Jepang, gw percaya higienitasnya.

Harga Basashi ini semangkuknya 900 yen. Alias hampir 100 ribu rupiah. Rasanya? Lembut, dan agak gurih. Cocol dengan saus soya khas Jepang, sama halnya seperti makan sashimi.

Sempat terlintas pikiran, kenapa tidak ada restoran yang berdiri di atas danau? Sebenarnya gw belum menemukan jawabannya. Tapi yang jelas, gw percaya jawabannya ada pada regulasi pemerintah setempat, supaya danau tetap terjaga kebersihan dan keindahannya, harus bebas dari segala bangunan.

Berputar demi mencari pemandangan gunung Fuji

Pemandangan gunung Fuji di sisi timur-tenggara danau Kawaguchiko terhalang oleh bukit, karenanya kami harus berputar ke timur laut supaya dapat pemandangannya.

pemandangan gunung fuji dari danau kawaguchiko
Beruntung, cuaca cerah dan bebas kabut, pemandangan gunung Fuji kami dapatkan.

Matahari terasa terik, tetapi udara yang sejuk seakan kami sedang bersepeda aerobik di ruangan Gym yang full AC, dan kami sama sekali tidak berkeringat!

Tiba di sisi timur laut, barulah kami mendapat pemandangan gunung, tetapi cahaya matahari yang terik bikin hampir semua foto gw tercemar backlight. Biarpun begitu tetap dapat satu atau dua yang bagus, salah satunya dipakai di halaman utama blog gw ini.

Kembali ke kota

Tak terasa hari mulai sore, kami kembali ke hotel, tak lupa singgah di toko suvenir di pinggir jalan, ada tukang es krim, rasanya mirip seperti es krim yang gw beli di Asakusa.

kit-kat-di-jepang
Kit-Kat di Jepang ini paling umum jadi suvenir. (Foto by Calvin Chan)

Waktu hampir menunjukkan jam 3 sore, di sisa waktu ini gw bersama beberapa teman gw yang masih kuat ngegowes menyempatkan diri keliling sebuah perumahan kecil. Dengan suasana yang sangat asri dan tanpa ada pagar. Lalu kami juga melewati sebuah sekolah, tampak anak-anak sedang bermain di lapangan sekolah.

bersepeda di sebuah komplek di fujikawaguchiko
Perumahan di Fujikawaguchiko.

Bus menuju Tokyo

Perjalanan kembali ke Tokyo kami tempuh dengan bus yang berangkat dari halte bus di Fuji-Q Highland Park. Artinya kami harus naik bus shuttle warna biru lagi. Tiba di halte bus, masih ada sekitar 1 jam sebelum busnya tiba, gw sempat ke toko oleh-oleh di Fuji-Q Highland Park.

Bus kami berhenti di stasiun dan halte bus pusat Shinjuku. Baru dari sini naik kereta menuju Asakusa. Kami menginap di hotel kapsul Bunka Hostel Tokyo.

Besok adalah hari terakhir kami di Jepang. Sebelum ke hotel, kami singgah makan malam di Yoshinoya. Sekalian studi banding, seberapa beda dengan Yoshinoya di Indonesia. Kesimpulannya? Tidak jauh berbeda.

yoshinoya asakusa
Menu makanan Yoshinoya di Asakusa, dua macam tumisan daging dan semangkuk sup miso.

Menginap di hotel kapsul Bunka Hostel Tokyo

Hotel kapsul, pengalamannya jauh berbeda dengan hotel-hotel sebelumnya. Disini terasa seperti “asrama”, bareng dengan wisatawan mancanegara lainnya. Cewe-cowo campur, gw sempat melihat salah satu wisatawan cewe ke kamar mandi hanya berbalut handuk :D.

Bunka Hostel Tokyo Asakusa
Hotel Kapsul Bunka Hostel di Asakusa.

Selebihnya di perjalanan gw di jepang selama 9 hari.

I love writing a story, or a code.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.