gundala memakai topeng

Review Film Gundala (2019), Pembuka Jagat Sinematik Pahlawan Indonesia

Gundala (2019) adalah film superhero yang diangkat dari kisah komik karangan Harya Suryaminata. Berharap nasibnya seperti Marvel Cinematic Universe, bagaimana perjalanannya?

Mungkin Joko Anwar terinspirasi dari Marvel Cinematic Universe yang berhasil mengangkat kisah tokoh-tokoh pahlawan komiknya ke layar lebar.

Tidak tanggung-tanggung, sang sutradara yang pernah membuat film Pengabdi Setan (2018) ini juga langsung mencanangkan proyek berjudul “Jagat Sinema Bumilangit Jilid I”

Nah, film Gundala ini adalah “perintis” dari SJBU Jilid 1 tersebut. Sebagai film Superhero perdana pembuka jagat sinema Bumi Langit, Gundala memperkenalkan salah satu tokoh yang bernama Sancaka, dengan nama Superheronya ya Gundala, sang Putra Petir.

Berhubung komik Gundala berada di zaman sebelum gw lahir, anggap gw menonton film ini tanpa ada pengetahuan tentang dunia Bumi Langit sama sekali.

Plot cerita Gundala: bagus di awal, terburu-buru di akhir

Dari awal sampai pertengahan, plot dari film diceritakan dengan baik. Penonton digugah dengan perasaan simpati terhadap penderitaan tokoh utama.

Seperti biasa, tokoh utamanya ialah seorang yang punya kekuatan super harus merasakan pahitnya kehidupan. Begitu juga sang antagonis, juga memiliki masa lalu yang kelam. Motivasi protagonis dan antagonis dikisahkan dengan baik.

Menjelang di tengah cerita, mulai terasa terburu-buru. Tanpa mengetahui perjalanan remaja si bocah malang tersebut, Sancaka kecil langsung skip menjadi Sancaka dewasa. Gw penasaran karena beberapa melihat sang tokoh utama seperti tidak ada harapan hidup.

Apalagi dengan sifat Sancaka yang kesatria dan siap membela siapa saja yang ditindas, ia seringkali mendapat masalah oleh preman yang “pekerjaannya” terganggu.

Tak tahunya, Sancaka dewasa sudah bekerja di sebuah pabrik percetakan. Mungkin dia memegang teguh ajaran seorang penyelamat ketika Sancaka kecil dikeroyok oleh preman, yakni “gak usah ngurusin hidup orang, nanti lo jadi susah“. Sejenak sifat idealis patriot Sancaka diredam demi hidup yang realistis.

Dan ketika dewasa, ia bertemu seorang tokoh yang mengembalikan sifat idealis Sancaka, dan perjalanan hidupnya sebagai pahlawan pun baru dimulai.

Menjelang akhir film, kesan ingin menonjolkan kalau film ini menjadi pembuka dari pahlawan-pahlawan lain Sinema Jagat Bumi Langit sungguh terasa. Iringan musik latar yang perlahan membangun hype hingga klimaksnya melawan sang antagonis yang memberikan monolog tentang pandangannya mengenai dunia ini.

Perjalanan tokoh utama Gundala yang kurang detil

Asumsi gw, mungkin sang editor film keasyikan menceritakan kisah kecil Sancaka. Lalu begitu sadar, “ini sudah setengah durasi film lho”, baru cerita berikutnya ditayangkan dengan secepat kilat.

Makanya begitu banyak plot hole di tengah cerita. Padahal ini film tentang pahlawan super, lho, sentral dari ceritanya ya sudah jelas tentang kekuatan Gundala yang bisa menyerap listrik.

Ehem, lebih spesifik, kekuatan listriknya datang dari petir, bukan dari kabel PLN. Jadi jangan heran kalau cuaca di film ini sering hujan, dan sedari kecil ia sudah sadar kalau petir selalu mengincarnya, seperti penangkal petir.

Gw tadinya berharap dari petir yang menyambar-nyambar ini muncul entitas semacam dewa petir yang memberi sabda, “you are the chosen one!“. Tapi tidak, makanya Gundala bingung kenapa dirinya selalu diuber petir.

Sancaka sejak kecil jago membetulkan alat elektronik. Tapi keahliannya ini tidak diceritakan lebih detail, bisa jadi ini salah satu yang menolongnya hidup hingga dewasa. Tapi gw hanya melihat keahliannya itu menjadi sekedar hobi di kamar.

Sebenarnya di film Gundala ini banyak tokoh-tokoh pahlawan super lainnya, tapi gw sama sekali tidak menyadari karena peran mereka di dalam film ini (spoiler alert). Ketahuannya baru setelah film selesai, ketika gw baca Wikipedia.

Baku hantam yang kurang “GreGet”

Salah satu koreografer di film ini ada Cecep Arif Rahman. Tetapi adegan baku hantamnya kurang terasa GreGet. Mungkin peran ahli bela diri kondang tersebut kurang dimaksimalkan. Sancaka kecil bisa bertarung dengan cukup lihai, tapi Sancaka dewasa seperti kurang tenaga.

Apalagi di saat klimaks, saat adegan tarungnya harusnya menjadi bagian yang epik, malah kurang terkesan karena terlalu banyak cut dan flashback.

Kekuatan supernya juga tidak banyak dipakai ketika bertarung, hanya sekilas-sekilas saja. Barulah pas ngelawan final boss, kekuatannya baru bangkit setelah ada adegan traumatik.

Lumayan, untuk permulaan

Sebagai permulaan, bagi gw film Gundala ini sudah bagus, karena ada niat dan mungkin sedikit modal nekat, akhirnya film pahlawan super asli Indonesia bisa terwujud. Usaha yang patut diacungi jempol.

Tapi jangan salah, jempol yang gw berikan hanya karena film ini berhasil memulai sebuah kisah. Bagaimana selanjutnya, gw berharap kekurangan-kekurangan yang ada di film Gundala ini diperbaiki. Bila selanjutnya mengecewakan, bisa jadi hype film pahlawan asli Indonesia kembali meredup dan hanya tinggal angan.

Tinggalkan komentar

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.