Media Cetak di Era Digital

Media cetak di era digital sekarang ini, tidak dipungkiri, sedang berada di turunan senang sedih. Karena oplah (dari bahasa Belanda oplage yang artinya salinan media cetak) ini penjualannya menurun, orang-orang beralih ke media digital.

Ada beberapa hal yang menyebabkan penurunan ini menurut gw :

Kehadiran Smartphone

Pertama, teknologi telepon seluler yang berubah nama menjadi smartphone yang saat ini kekuatannya setara dengan komputer desktop pada tahun 2000 an dan akan terus meningkat. Bisa dipakai untuk browsing internet, membuka kanal video, portal berita melalui web, dan berbagai macam aplikasi, semua dalam genggaman tangan.

Internet Semakin Cepat

Kedua, berkembangnya media internet. Punya foto untuk berbagi ? Bisa lewat Instagram, Twitter. Punya video untuk di broadcast ? Bisa lewat Youtube. Semuanya bisa diakses lewat smartphone.

Semangat Berbagi

Ketiga, berkembangnya kemampuan berbagi konten di sosial media dan aplikasi chatting, sehingga konten dari portal berita bisa dicopas langsung ke grup-grup chat, menjamin kecepatan dan kepraktisan penyebaran konten, lagi-lagi semua bisa dilakukan lewat smartphone.

Broadcast Yourself

Keempat, berkembangnya citizen journalism. Sekarang tiap orang dapat membuat sendiri konten foto, musik, dan video. Peran media cetak dan televisi yang dulu sebagai media promosi sekarang bisa dilakukan sendiri tanpa perlu membayar media untuk pasang iklan.

Sentral dari semua perkembangan ini adalah kehadiran smartphone.

20 years later and all of these things fits in your pocket
20 tahun kemudian semua benda ini akan muat di kantong Anda

sumber : https://twitter.com/2thank/status/455205473013071872

Semua perangkat diatas muat di dalam kantong ? Kok bisa ? Ya, coba lihat alasan pertama yang gw utarakan di atas, dengan kemampuan smartphone saat ini, dia bisa memutar lagu, mengambil gambar, merekam video.

Konsekuensi

Digital Disruption, kehadiran media digital dan freedom of speech, semakin memungkinkan setiap orang mengutarakan opini, biarpun dia bukan jurnalis sekalipun, maupun tidak mengenal kode etik jurnalistik sekalipun, bisa bebas mem-publish kontennya sendiri.

Ya seperti gw ini, beli domain dimiherlambang.com, pasang wordpress di sub domain blog.dimiherlambang.com.

Dampaknya, bermunculanlah blogger-blogger pribadi, mereka meliput sendiri objek, mempublish sendiri hasil liputannya ke akun mereka sendiri, kalau memang kontennya menarik, pasti banyak yang subscribe atau follow akun tersebut. Kalau pelanggannya banyak, ya siap-siap dilirik jadi brand ambassador.

Di sisi lain juga, ada banyak kelompok yang memanfaatkan media digital ini untuk menyebarkan info hoax, dan lucunya malah mengambil keuntungan dari situ.

Solusi

Imbasnya, industri media harus berbenah diri, mengubah konsep penyajian informasi dalam bentuk digital.

Berbeda dengan cetak, tantangan terbesarnya adalah menyajikan informasi yang interaktif, serta memanfaatkan fitur-fitur dan kemampuan teknologi digital dalam menampilkan konten format multimedia.

Menurut gw tetap ada peluang untuk industri media, terutama media-media yang memegang teguh kode etik jurnalistik, dan selalu menghasilkan tulisan yang berkualitas, tidak clickbait, aktual, terpercaya, dan bebas hoax. Karena freedom of speech bisa berujung pada anarchy bila terlalu bebas, akhirnya informasi jadi sulit disaring benar tidaknya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.