Pengalaman Bekerja di Transcosmos Indonesia – Part 3

Sebelumnya di Pengalaman Bekerja di Transcosmos Indonesia – Part 2

Tahun kedua, periode 2016-2017. Tahun baru, tempat juga baru.

Mulai dari Januari 2016 ini, kantor kami khususnya untuk divisi Digital Marketing dipindahkan. Dari gedung Sarana Jaya ke gedung Graha Lestari di Jalan Kesehatan, pindahnya memang gk jauh-jauh amat.

Di tahun kedua ini juga gw sudah mulai mengerjakan banyak proyek. Tapi berhubung skill html css gw juga masih pemula, jadi level kesulitan proyek yang gw kerjakan juga tidak terlalu sulit, tapi tetap butuh ketelitian super. Karena konten halaman web yang kita edit itu BAHASA JEPANG.

Alias, kita harus selalu ekstra waspada karena kita sama sekali gak tau bagian konten mana yang sudah diganti, mana yang belum, karena gw juga gak bisa bahasa Jepang.

Tapi itu bukan alasan, karena memang kita “dibayar untuk ini”, dan kita juga dibekali tools macam difff.jp, WinMerge. Dua tools ini yang senantiasa membantu kami, membedakan mana teks yang sudah diganti mana yang belum, karena fungsinya memang mencari perbedaan antara 2 teks.

Kurang lebih, gw selalu memakan waktu cukup lama dalam melakukan pengecekan, kemudian akan diperiksa lagi oleh Person-in-charge.

Sambil gw belajar mempelajari html css, mengerjakan proyek website, gw pun lama-kelamaan paham akan hal-hal apa saja yang dibutuhkan dalam membangun website. Gw pun mencoba berlangganan hosting di salah satu layanan web hosting, bayar sekitar 160rb per tahun untuk domain dimiherlambang.com, kemudian untuk biaya hosting gw merogoh kocek sekitar 150rb per 3 bulan, bagi yang ingin berkunjung, silakan menuju website pribadi gw.

Agustus 2016

Pada pertengahan bulan agustus ini, gw menerima titah untuk mengerjakan sebuah proyek besar, dan proyek ini sama sekali tidak terkait dengan web development. Ya, kita mendapat klien sebuah maskapai penerbangan yang ingin meluncurkan website versi Bahasa Indonesia. Tugas gw ? menerjemahkan konten bahasa Inggris ke Indonesia.

Pertama kalinya gw memegang proyek translate ini, dan gw merasa cukup percaya diri pada skill bahasa inggris gw, meskipun belom pernah mengambil kursus bahasa inggris sekalipun, satu-satunya sumber belajar gw ya dari video game.

Awal-awalnya, memang cukup banyak hasil translate gw yang bahasa indonesia nya terlalu “kamus”, menerjemahkan kalimat per kalimat secara harfiah. Namun lama-kelamaan gw terbiasa dan mulai menggunakan bahasa indonesia yang lebih praktis dan simpel.

Tapi tidak hanya sampai disitu, tantangan lain dalam menerjemahkan atau melokalisir konten ke bahasa lain (dalam konteks ini dari inggris ke indo) ialah mencari istilah-istilah yang umum digunakan.

Sampai terkadang gw harus menyusun sendiri kalimat baru atau riset mengenai istilah-istilah yang jarang orang tahu. Misalkan, inggrisnya “Aftertaste” ini bila diterjemahkan ke indonesia artinya adalah citarasa yang tertinggal di mulut ketika seseorang menyantap satu makanan/minuman.Nah sementara di bahasa indonesianya sendiri, aftertaste itu belum ada istilah baku atau sebenarnya ada tapi orang jarang dengar, yakni “sisa rasa”.

Kesulitan semakin bertambah ketika mesti menerjemahkan tagline promo. Karena sering sekali bahasa inggris yang digunakan sifatnya klise, bahkan puitis yang menggambarkan keindahan suatu produk, sementara kalau diterjemahkan langsung ke Indo jadi aneh, otomatis harus bikin istilah baru.

Januari 2017

Januari 2017, perjalanan gw di transcosmos hampir berakhir. Sebagian teman juga sudah ada yang resign sehingga batch 8 angkatan gw juga jumlahnya semakin berkurang.

Tapi sisi terangnya, gw kebagian jatah Outing Transcosmos Jilid 2, kali ini ke Grafika Cikole Lembang. Kami berangkat dari Jakarta kemudian menuju Lembang via tol Cipali, kemudian kota Subang, Ciater, Tangkuban Perahu, hingga Cikole. Demi menghindari carut-marutnya kota bandung, kami menggunakan jalur utara yang memang ternyata bebas macet.

Singkat cerita, tibalah di penghujung bulan Januari 2017,  yakni di tanggal 31 pada hari selasa, adalah hari terakhir gw di Transcosmos Indonesia. Kenangan dan pengalaman selama 2 tahun di kantor ini tak terlupakan. Gw menyadari karir gw sebagai web developer juga masih sangat panjang. Gw membawa prinsip, kedisiplinan, hingga coding template yang gw susun sendiri yang memiliki teknik ala TCID. Meskipun gw nggak bisa membeberkan proyek-proyek apa saja yang pernah gw tangani, setidaknya gw bisa berbagi experience disini.

End

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.