Pengalaman Operasi Usus Buntu

Kejadiannya sih, sekitar tahun 2011. Gw mau cerita pengalaman operasi usus buntu gw yang sembuhnya sampai 1 bulan.

Ketika itu mana sedang ada UTS, alhasil ada salah satu mata pelajaran yang gagal karena tidak hadir saat UTS.

Sekarang sudah sembuh total ^.^ yang tersisa hanyalah bekas operasi, dan pengalaman yang berharga.

Kejadiannya kurang lebih, seperti ini :

Gejala Awal

Hari itu merupakan hari yang cerah. Saking cerahnya, di pagi hari gw masih bisa main sepeda. Dengan sedikit rasa tidak nyaman di punggung. Ya, memang sebelum – sebelumnya gw sering kena sakit maag, makanya rasa nggak nyaman di abdomen dan punggung itu mungkin cuma gejala maag biasa. Perasaan gak nyaman itu berlanjut hingga sore, lalu malam hari, sampai keesokan harinya.

Sakit banget, seluruh bagian abdomen terasa sakit, hingga bagian kanan bawah, tempat usbun berada juga terasa nyeri. Pada hari ini belum engeh sama sekali ama yang namanya radang usus buntu (jelas, kebiasaan sakit maag jadi mikirnya juga kali ini cuma maag biasa). Turns out, ini lebih parah dari maag.

Malam itu, nyeri nya luar biasa sampai hampir pingsan tiduran ke ubin. Mau tidur juga gak bisa tenang, semalaman menggigil plus rasa nggak nyaman di abdomen bikin posisi tidur terus berubah. Akhirnya gw putuskan untuk ke dokter umum langganan besok pagi.

Konsultasi Dokter

Keesokan paginya jalan ke dokter umum. Sambil jalan aja, kalau kaki kanan di angkat, bagian kanan bawah abdomen uda sakit. Pemikiran terburuk gw sih, ini kayaknya radang usbun. Nah, begitu sesampainya di dokter umum, setelah gw cerita panjang lebar. Dokter langsung memvonis usus bun.. bukan, MAAG ! Well, akhirnya dikasih obat maag.

Pulang terus makan dan minum obatnya seperti biasa. Sore harinya, rasa sakitnya pindah dari abdomen tengah ke kanan bawah, sekarang bagian tengah uda gak sakit lagi.

Tidur bisa sedikit tenang, rasa sakit agak hilang, tapi kenapa bagian usus buntu nya masih sakit? Pagi itu cuma sarapan roti sepotong dan terus tiduran sambil berpikir optimis bisa sembuh. No, it s not. My Mind tells bigger threat.Gw akhirnya bilang ke nyokap supaya ngunjungin dokter internis langganan nyokap, di sebuah rumah sakit swasta di Kebon Jeruk.

Ke Rumah Sakit

Oke menjelang siang berangkat ber-3 bareng bokap juga naik mobil. Sesampainya disana masih harus nunggu lagi, ternyata dokternya lagi visit ke pasien – pasien rawat inap. Kemudian giliran gw tiba. gw laporin semua gejalanya, sambil cek temperatur, juga dipencet bagian usus buntunya, “sakit dok!”, Kemudian . .

“Ini sih sore langsung operasi ya sore, uda parah nih”

there it is …

Ya, perasaan terkejut sih pasti ada, bagi orang yang tidak pernah masuk ke rumah sakit sebagai pasien, apalagi yang namanya operasi. Gw sempet nanya, “dok boleh ditunggu sampe besok gak kali aja sembuh ?” *ngarep*. Langsung dibalas, “oh boleh aja, tapi lo harus nandatanganin surat pernyataan kalo menolak dioperasi hari ini”. That’s right, kalau misalnya besok hari gw kenapa – kenapa, sementara hari ini uda ke dokter dan menyarankan harus operasi sebelum hal yang tidak diinginkan terjadi, Dokter tentu gak mau dong disalahin?

Operasi Usus Buntu

Gak ada pilihan lain, harus operasi sekarang juga. Dari ruang dokter langsung babe (panggilan akrab nyokap gw ke dokter internisnya) telepon buat registrasi kamar rawat inap, lantai 4.

Gw jalan sama dokter, “ude lo ikut gw ke kamar, biar ibu lo ngurus administrasi”. Sampe di atas, dokter langsung ngarahin gw ke kamar, “lo tiduran dulu situ sambil nunggu jam 5 ntar operasi”. Well, this is it, kamar ini akan menjadi “hotel” gw sampe seminggu kedepan.

Sore hari pun tiba, pukul 5 bangsal berjalan pun datang menjemput. Trus dibawa turun ke lantai 2, ke ruang OPERASI. Ya, bagi sebagian orang mungkin ada yang tegang, apalagi pertama kali masuk ruang operasi. Tapi bagi gw, I have no choice, have to get through this first to live another day, and I have nothing to fear.

Tiba diruang operasi, langsung pakai daster operasi. Lalu masuk ke ruangan super dingin dan disambut oleh dokter bedah dan asisten – asistennya. Terlihat mereka mempersiapkan peralatan bedah, sambil mengganti kantung cairan infus gw dengan obat bius. Oh ya, sepertinya mereka sudah terlatih untuk menciptakan suasanya yang benar – benar rileks. Peralatan bedah tampak masih dibungkus, sambil ditutupin badan si asisten. Gw aja diajak ngobrol tentang film, kemudian infus bekerja dan gw tidak sadarkan diri.

Pasca Operasi

Bangun – bangun itu sekitar jam 9 malam, mata masih setengah terbuka, keliatan dari jauh ada jam dinding. Terlihat sekeliling asisten sibuk dengan . . . ah gak inget, gak lama setelah itu gw didorong keluar dari ruang operasi dan melihat saudara-saudara menunggu diluar. Sambil berlalu kemudian di bawa balik ke lantai 4, dimana kamar gw berada.

Malam itu sungguh tidur yang tidak nyaman. Karena tidak makan dari pagi, asam di lambung numpuk dan bikin kembung. dan semenjak efek obat bius habis, sekarang di bagian yang di operasi juga mulai terasa perih. Untuk bisa napas sampai 100%, harus menggunakan teknik pernapasan dada.

Tidak banyak aktivitas yang bisa gw lakuin, sistem pencernaan juga masih shut down alias belum aktif bekerja. Untuk menghilangkan haus hanya sesendok dua sendok teh manis setiap 1 jam. Untungnya sambil dipijitin di kaki, lumayan ada rasa hangat dan nyaman.

Buang angin pertama keluar sekitar jam 3 pagi. Dan akhirnya boleh minum meskipun cuman 1 atau 3 sendok teh, sekedar menghilangkan rasa haus.

Full Bed-Rest Rumah Sakit

Keesokan harinya, ketika efek obat bius habis, dan pain-killer reda, barulah muncul rasa nyeri di bekas operasi. Hal yang lumrah memang, tapi bagi yang baru operasi bedah pertama kali? Cukup menganggu. Terlebih, karena jaringan otot yang dibedah, butuh waktu bagi sel otot yang ada di daerah bekas operasi untuk regenerasi. Alhasil, ketika ingin duduk, rasanya sulit dan sakit. Perlu waktu hingga 2 – 3 hari sampai mulai bisa untuk duduk dan bangun berdiri, meski masih sempoyongan.

Seminggu pasca operasi adalah masa recovery di rumah sakit. Makanan harian tidak lain hanyalah bubur sum-sum, memang enak, tapi lama kelamaan ya enek juga. Ketika ibu di samping makan makanan padang, alangkah lezatnya saus gulai ayam dan lalapan daun singkong beserta nasi pulen dan pera’ yang sangat nikmat, Sayang hanya bisa melihat.

Selama seminggu itu pula berbagai macam tes, dari ambil darah hingga urin, feses, USG scan, rontgen dada dilakukan untuk menunjang pemantauan kondisi badan pasca operasi. Selama seminggu itu pula badan gw demam 38 derajat celsius. Antibiotik, pain-killer dan obat penurun demam diminum untuk membantu pemulihan.

Akhirnya setelah seminggu dirawat, dokter mengizinkan untuk pulang, tapi tetap dalam pengawasan karena demam yang tidak kunjung turun. Tapi tetap semua berharap yang terbaik, dan gw juga selalu berdoa agar demamnya cepat turun.

Tapi sayangnya, doa gw tidak terkabul, selama sebulan gw mengalami Infeksi Operasi Pasca Usus Buntu, yang mengakibatkan gw harus dioperasi dua kali.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.