Outing Transcosmos Indonesia 2015

Tahun pertama gw bekerja di Trancosmos Indonesia, gw kebagian outing kantor ke daerah waduk Situ Cileunca, terletak di Bandung bagian selatan.

Pagi itu hari Sabtu tanggal 20 Desember 2015, cuaca Jakarta mendung, setelah diguyur hujan pada dini harinya, jalanan sangat basah.

Persiapan Outing

Lokasi kantor di  gedung Sarana Jaya, bus menanti di bagian belakang. Tapi bus belum dibuka, jadinya gw masuk kantor dulu untuk menyapa teman-teman. Dan benar saja, di basement B1, tepatnya di kantin, sudah berkumpul teman-teman yang sedang sarapan dan ngebul, kemudian ke lantai 6 untuk melihat suasana kantor di hari libur.

Sepi, karena divisi Digital Marketing Transcosmos saat itu hanya buka dari Senin sampai Jumat. Didalam ada teman-teman yang sedang menyiapkan perkakas, seperti pengeras suara, bekal kue untuk di jalan, hinggu satu dus minuman bir kepunyaan Manajer-san.

 

suasana di bus
suasana di dalam bus, tidak terlalu padat, nyaman dan lega

 

Tepat pukul 07.00, kami berangkat. Di perjalanan pun kami diiringi oleh hujan ringan di sepanjang jalan tol. Piknik di musim hujan memang seperti ini suasananya, tapi ada untungnya juga buat kami, karena terkait dengan salah satu permainan yang ada di tempat wisata nanti.

Perjalanan

Seperti biasa, jalan tol Cikampek dipadati oleh kendaraan ber-plat B yang ingin piknik ke luar kota. Kami sempat keluar tol di daerah Cikarang untuk men”dahului” jalan tol yang sangat padat.

Diperjalanan kami menghibur diri dengan karaoke. Rupanya pihak bus punya simpanan CD musik lengkap, dan teman gw yang pinter nyanyi maju menyambar mik karaoke.

 

karaoke di bus
macet pun bukan masalah, ada CD koleksi CD musik lengkap

 

Selepas kawasan Karawang dan Bekasi timur, jalan tol pun lancar, supir bus langsung tancap gas untuk mengejar jadwal yang terganggu macet di  tol Cikampek.

Setibanya di tol Padaleunyi, kami keluar di gerbang tol Buah Batu, kemudian belok kanan menuju Bandung selatan. Jalanan ramai dan tersendat. Kami melewati pasar, industri garmen di sepanjang jalan Raya Banjaran, hingga memasuki pusat kota kecamatan Banjaran.

Selepas dari pusat kota, tepatnya di jalan raya Pengalengan, kontur jalanan mulai menanjak. Kanan kiri masih berupa hutan, sesekali berjumpa dengan perumahan warga. Pemandangan gunung membuat kami merasa takjub. Apalagi kalau bukan gara-gara setiap hari disuguhi pemandangan belantara hutan “beton” ibukota Jakarta.

Tiba di TKP

Akhirnya kami tiba, di waduk situ Cileunca. Tapi sayangnya, waduk sedang dalam kondisi setengah surut. Cuaca pun hujan cukup deras. Kami tiba di tempat parkir untuk kemudian turun menaiki mobil bak tertutup untuk menuju penginapan.

 

bagian depan mess penginapan
bagian depan mess penginapan, sederhana dan apik

 

Kami diberi waktu beristirahat, shalat, menaruh barang bawaan, sambil “memperkenalkan diri” dengan mess tempat kami tidur nanti malam.

suasana di dalam mess
lega, bersih, nyaman dan hangat

 

Karyawan diberi mess, sementara para manajer-san ditempatkan di cottage yang sedikit lebih mewah.

 

cottage para manajer
cottage para manajer-san yang dilapisi karpet dan toilet dalam

 

Setelah itu, makan siang sudah menunggu, kami diminta makan yang banyak karena acara berikutnya adalah permainan yang berhubungan dengan air, yakni arum jeram. Dengan cuaca hujan dan air pegunungan yang seperti es, bakal menjadi pengalaman yang cool.

Penjual sandal pun datang menawarkan sandal gunung, yang menurut gw kurang nyaman dipakai. Gw memutuskan untuk tidak beli dan tetap memakai sandal jepit saja. Tentu saja ada resiko hanyut pas arum jeram nanti.

Arum Jeram

Dengan mobil bak terbuka, kami menuju pintu waduk lalu menuruni tembok luar bendungan untuk ke sungai yang menjadi arus keluar waduk. Cuaca gerimis, tapi bukan masalah, karena toh bakal basah-basahan juga.

Instruktur meminta kami menyerahkan telepon genggam, kacamata, dompet, dan benda krusial lainnya, karena takut tercebur pastinya. Lalu menggunakan rompi, helm pelindung sebagai equipment dasar arum jeram.

Sesampainya di raft, hujan turun dengan deras, menambah serunya arum jeram, apalagi arusnya juga cukup deras. Dinginnya siraman air hujan, dan cipratan air sungai yang memasuki raft, benar-benar memaksa badan untuk membakar lemak agar suhu badan tetap di titik optimal yakni 35oc. Setelah menyusuri sungai kurang lebih sepanjang 1 kilometer, kami mendarat. Disana sudah menunggu mobil jemputan bak tertutup untuk membawa kami kembali ke mess. Sandal gw masih utuh untungnya.

 

maghrib di mess
di sore hari pun kabut turun

 

Menjelang maghrib, kabut mulai turun, fenomena khas daerah pegunungan. Menambah dinginnya sore itu. Ada tukang bakso, seperti sudah peka terhadap situasi, dingin dan lapar, rejeki nomplok bagi akang tukang bakso, banyak yang beli.

At Night

Malam harinya, sejumlah acara disiapkan, teman-teman yang bawa gitar dan bisa nyanyi pun mengisi panggung acara, sambil dibawakan MC. Tentu saja, manajer-san pun tidak lolos dari suruhan MC untuk bernyanyi. Beliau bertanya lagu Jepang apa yang populer ? Sontak gw celetuk, “Sukiyaki!”. Temen-temen gw tidak tahu itu lagu apa, tapi begitu dinyanyikan, langsung pada sadar, kalau itu tuh lagunya Kasino waktu ngamen Nyanyian Kode.

 

kambing guling
kambing guling siap dipotong dan disajikan bersama bumbu kecap

 

Malam itu juga, kami disuguhi berbagai hidangan. Setelah makan malam biasa, ada satu pak susu murni yang masih hangat, kemudian yang terakhir, satu ekor kambing, dimasak ala kambing guling, lengkap dengan bumbu kecap.

 

berkumpul di aula mess
Malam itu terasa dingin, tapi seakan tak terasa dengan hangatnya kebersamaan kami

 

Acara pun berlanjut hingga larut malam. Karena diluar semakin dingin, gw memutuskan masuk ke mess, ada teman yang membawa kartu gaple, kami pun main bersama. Masing-masing kamar mess membawa mainan sendiri, ada yang bawa board game juga. Tak terasa sudah tengah malam, gw memilih  tidur. Kaos kaki, celana training yang tebal, hingga jaket yang baru dicuci, menambah nyamannya istirahat di malam itu … ternyata tidak.

Gw tidur disebelah teman gw yang ngoroknya semerdu kodok bangkong. Meskipun gw sudah tidur nyenyak, sebenarnya sebelah gw semalaman ber”nyanyi”, seperti ber-irama dengan nyanyian kodok diluar yang bersahutan sembari menyambut hujan di malam itu. Paginya baru diberi tahu teman sebelahnya yang ternyata semalam sulit memejamkan mata, karena terganggu ngoroknya itu.

Embun Pagi

Pagi subuh, sebagian dari kami yang muslim menuju mushalla yang berada di tengah komplek penginapan. Setelah itu, kami keluar untuk sarapan.

 

pemanasan dipimpin seorang instruktur senam
sang instruktur berbaju hijau mentereng berdiri ditengah lapangan

 

Udara sangat segar, langit berawan dan masih ada sisa kabut semalam, usai sarapan langsung kami berkumpul di lapangan bola untuk pemanasan.

Lari pagi dimulai dengan menuruni bukit, memang tempat penginapan kami ini dari jalan raya harus menanjak securam 45 derajat hingga sampai di mess. Makanya turunan senang, pulangnya nanti bakal keram.

Outbound Games

Setibanya di pinggir waduk, kami melihat hutan di seberang waduk, pemandangannya sangat indah, kabut perlahan sirna sambil membuka langit biru yang bersih, menyegarkan mata yang sehari-hari hanya melihat layar komputer.

 

pinggiran waduk cileunca
istirahat mata dengan melihat pemandangan yang jauh

 

Setelah berkelana di pinggiran waduk, kami disuguhi permainan outbound yang kedua, yakni flying fox. Sebenarnya, flying fox ini meluncur tepat diatas air. Tapi karena waduknya surut, yang terlihat hanya rerumputan, ada juga sumur ditengah waduk, gw sempat terpana melihat darimana sumur ini mengeluarkan air.

 

flying fox diatas waduk yang surut
Flying fox diatas waduk yang sedang surut

 

Flying fox ini juga memiliki twist tersendiri. Ya, ada beberapa teman yang di”jahili”, yakni tali di rem sehingga korban tergantung di tengah-tengah sebelum meluncur sampai bawah. Bukan sesuatu yang mengkhawatirkan, tetapi karena sedang surut, jadi tak perlu kuatir tercebur, paling hanya patah tulang.

Kemudian, kami naik mobil bak terbuka kembali untuk menuju permainan outbound yang terakhir, yakni paint ball.

 

paintball di hutan
paintball ditengah hutan, pohon sebagai satu-satunya cover

 

Gw kesulitan ketika bermain paint ball ini, karena helm pelindung memaksa gw melepas kacamata, dan mata kanan gw minusnya tinggi, jadinya susah buat ngeker. Apalagi tabung paint ball nya berada di atas pisir pistolnya, kemudian ada efek balistik, mirip seperti airsoft.

Selepas outbound yang terakhir ini, selesailah rangkaian piknik di Cileunca ini, kami kembali ke mess untuk mandi, makan siang, sambil menunggu jam check-out kembali menuju Jakarta.

In the end, sebuah pengalaman yang berharga bagi kami, sesaat melepas penat di akhir pekan di luar kota, menghirup udara bersih, pemandangan yang menyegarkan mata, hingga suasana kebersamaan yang tidak akan terlupakan.

Meskipun gw dan sebagian teman-teman sudah resign dari Transcosmos Indonesia, tapi tetap, pengalaman kerja pertama, pengalaman piknik pertama bersama kantor, akan terus tetap ter-ingat sampai kapanpun dan dimanapun.

Finding it though, that’s not the hard part, it’s letting go. –Father Elijah

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.