Curhatan Seorang Programmer

Gw lulusan Sistem Informasi Binus, dididik menjadi seorang programmer, analis, desainer sistem, karena semua yang gw pelajari terkait dengan cara membangun sistem.

Banyak Bahasa Pemrograman

Selama kuliah, gw dijejali beberapa bahasa pemrograman. Mulai dari Java di semester 1, kemudian C#, html, hingga SQL.

Gw selalu bertanya-tanya kenapa kita tidak dituntut menguasai satu macam pemrograman saja.

Lalu ketika gw masuk ke dunia kerja dan mendaftarkan diri di J*bstreet, gw mulai menyadari kalau bahasa pemrograman di dunia ini cukup banyak, sesuai dengan bidang penerapan pemrograman tersebut. Untuk aplikasi windows misalnya, ngembanginnya pakai C dan keturunannya juga Java, untuk basis data, pakai SQL, web pakai HTML dan kawan-kawannya.

Tentunya bahasa-bahasa pemrograman yang gw sebutin diatas hanya contoh kecil, beda jurusan ato beda kampus mungkin bisa beda bahasanya.

Dan gw sendiri baru berkecimpung di dunia pemrograman web selama 2 tahun, which is masih dalam level pemula, tapi kurang lebih gw cukup merasakan pengalaman menjadi seorang programmer.

Apa yang didapat ?

Mabok, mual, tipes, insomnia.

Nggak sih, belajar pemrograman itu sebenernya menyenangkan, tapi semakin dalam belajar programming, maka semakin mengubah pola pikir seseorang. Karena programming itu menekankan pada logika yang bisa dipahami oleh program.

Contoh jenakanya seperti ini : seorang programmer diminta membeli 5 telur, kalau ada susu, beli 10. Lalu ketika programmer itu kembali, yang dia beli adalah 10 telur. Kesalahannya dimana ? ada pada si pemberi instruksi, karena dia menggunakan kata kalau, dan masih dalam lingkup membeli 5 telur. Coba dia menyuruh membeli 5 telur dan 10 botol susu, maka selesai perkara. kalau digambarkan algoritmanya, seperti ini :

ketika programmer menerima instruksi membeli telur :

beli 5 telur;

lalu ketika programmer menerima instruksi tambahan, kalau ada susu, beli 10, maka instruksinya berubah menjadi :

if (ada susu)
then { 
   beli 10 telur; 
}
else {
   beli 5 telur;
}

kurang lebih seperti itu, hanya contoh kecil saja.

Impact pada kehidupan sehari-hari

Ada beberapa yang bilang bahwa seorang programmer biasanya agak anti-sosial, agak sulit diajak berbicara. Dan itu gw rasakan ada benarnya, tapi ada kaitannya juga dengan lingkungan gw bekerja.

Selama 2 tahun gw berkarir sebagai programmer di sebuah kantor agency swasta, gw mendapati sekeliling gw sesama programmer, sesama yang paham bahasa dan logika pemrograman, sehingga apabila gw berbicara soal program, masih ada nyambungnya.

Lalu semua berubah ketika gw memutuskan untuk resign dan bekerja di kantor baru, sebuah media masa nasional, yang saat ini sedang merintis pengembangan digitalnya. Gw mendapati sekeliling gw orang-orang yang berprofesi sebagai copywriter.

Kebetulan memang gw tidak ditempatkan di lingkungan programmer perusahaan ini, karena dianggapnya gw menjadi seorang enabler yang menjembatani kebutuhan orang-orang non-teknis yang primitif soal programming, dengan tim IT atau programmer yang menyediakan sarana prasarana teknologi informasi yang dibutuhkan copywriter-copywriter ini.

Menurut gw agak sulit memberikan gambaran terhadap apa yang gw kerjakan, atau sedang gw program. Tapi orang-orang non-teknis menganggapnya enteng.

Bahkan, ada yang menganggap gw yang baru masuk ini dan baru 2 tahun belajar programming ini bisa bikin bermacam-macam aplikasi. Ya, kalau memang gw seorang expert, gw juga gak bakal dapet gaji segini, gw juga minta gaji diatas 10 juta, atau bahkan mungkin tidak bekerja disini.

Tantangan terbesar

Tantangan terbesar menurut gw adalah bagaimana mengkomunikasikan kesulitan yang gw hadapi, atau kendala yang sekiranya akan gw hadapi ketika datang sebuah permintaan dari pihak non-teknis.

Akan sangat membantu apabila orang-orang non-teknis ini mengerti atau setidaknya pernah membuat program. Tapi sayangnya copywriter menulis artikel, sementara gw menulis program, dua hal yang berbeda tapi dalam pembuatannya sama-sama di”tulis”.

Tapi diluar itu semua, gw merasa tertantang, gw jadi bisa melihat suatu hal dari sisi berbeda. Gw harus meningkatkan skill komunikasi gw, karena ada slogan yang mengatakan bahwa, “seorang programmer yang baik adalah programmer yang bisa mengkomunikasikan program yang sedang dikembangkannya dengan orang-orang.”

Gw juga termotivasi untuk menjadi seorang ahli metafor, yakni seorang yang ahli menggambarkan sesuatu dengan analogi sederhana. Misalkan begini : “Gw seorang programmer itu ibarat seseorang yang bekerja di saluran air bawah tanah, orang-orang yang ada dipermukaan itu atasan gw. Gw tau kondisi dibawah tanah tapi yang di permukaan karena tidak pernah kebawah jadi tidak tahu kondisinya bagaimana, syukur-syukur dari mereka ada yang pernah masuk kebawah tanah.”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.