curhatan seorang programmer. (shutterstock)

Curhatan Seorang Programmer

Gw lulusan Sistem Informasi Binus, dididik menjadi seorang programmer, analis, desainer sistem, karena semua yang gw pelajari terkait dengan bagaimana caranya membangun sebuah sistem informasi.

Banyak bahasa pemrograman

Selama kuliah, gw dijejali beberapa bahasa pemrograman. Mulai dari Java di semester 1, kemudian C#, html, hingga SQL.

Gw selalu bertanya-tanya kenapa kita tidak dituntut menguasai satu macam pemrograman saja.

Lalu ketika gw masuk ke dunia kerja dan mendaftarkan diri di J*bstreet, gw mulai menyadari kalau bahasa pemrograman di dunia ini ada banyak, sesuai dengan bidang penerapan pemrograman tersebut.

Untuk aplikasi windows misalnya, ngembanginnya pakai C dan keturunannya, juga Java. Untuk basis data, pakai SQL, sementara web pakai HTML, CSS, dan Javascript.

Tentunya bahasa-bahasa pemrograman yang gw sebutin diatas hanya contoh kecil, beda jurusan atau beda kampus mungkin bisa beda bahasanya.

Dan gw sendiri baru berkecimpung di dunia pemrograman web selama 2 tahun, which is masih dalam level pemula, tapi kurang lebih gw cukup merasakan pengalaman menjadi seorang programmer.

Apa yang didapat?

Mabok, mual, tipes, insomnia.

Nggak juga kok, belajar pemrograman itu sebenernya menyenangkan, tapi semakin dalam belajar programming, maka semakin mengubah pola pikir seseorang. Karena pemforgaman itu menekankan pada logika yang bisa dipahami oleh program.

Contoh jenakanya seperti ini: seorang programmer diminta membeli 5 telur, kalau ada susu, beli 10. Lalu ketika programmer itu kembali, yang dia beli adalah 10 telur.

Kesalahannya dimana ? Ada pada si pemberi instruksi, karena dia menggunakan kata kalau, dan masih dalam lingkup membeli 5 telur. Coba dia nyuruhnya membeli 5 telur dan 10 botol susu, maka selesai perkara. kalau digambarkan algoritmanya, seperti ini :

ketika programmer menerima instruksi membeli telur :

beli 5 telur;

lalu ketika programmer menerima instruksi tambahan, kalau ada susu, beli 10, maka instruksinya berubah menjadi :

if (ada susu)
then { 
   beli 10 telur; 
}
else {
   beli 5 telur;
}

kurang lebih seperti itu, hanya contoh kecil saja. Penggunaan kalimat yang salah dalam kegiatan sehari-hari mungkin hanya berakibat debat sedikit, “jadinya mau beli 5 telur atau 10 telur?” Tapi kalau dalam programming? Salah SATU HURUF SAJA, pusingnya bisa sampai seharian.

Seorang programmer harus berpikir logis, karena programming menggunakan ilmu eksak.

Impact pada kehidupan sehari-hari

Ada beberapa yang bilang bahwa seorang programmer biasanya agak anti-sosial, agak sulit diajak berbicara. Dan itu gw rasakan ada benarnya, tapi ada kaitannya juga dengan lingkungan gw bekerja.

Selama 2 tahun gw berkarir sebagai programmer di sebuah kantor agency swasta, gw mendapati sekeliling gw sesama programmer, sesama yang paham bahasa dan logika pemrograman, sehingga apabila gw berbicara soal program, masih ada nyambungnya.

Lalu semua berubah ketika gw memutuskan untuk resign dan bekerja di kantor baru, sebuah media massa swasta terkenal, yang saat ini sedang merintis pengembangan digitalnya. Gw mendapati sekeliling gw orang-orang yang berprofesi sebagai copywriter.

Kebetulan memang gw tidak ditempatkan di lingkungan programmer perusahaan ini, karena dianggapnya gw menjadi seorang enabler yang menjembatani kebutuhan orang-orang non-teknis yang primitif soal programming, dengan tim IT atau programmer yang menyediakan sarana prasarana teknologi informasi yang dibutuhkan copywriter-copywriter ini.

how users see the progammers
How users see the programmers. (dari 9gag.com)

Menurut gw agak sulit memberikan gambaran terhadap apa yang gw kerjakan, atau sedang gw program. Tapi orang-orang non-teknis menganggapnya enteng.

Bahkan, ada yang menganggap gw yang baru masuk ini dan baru 2 tahun belajar programming ini bisa bikin bermacam-macam aplikasi. Ya, kalau memang gw seorang expert, gw juga gak bakal dapet gaji segini, gw juga minta gaji diatas 10 juta, atau bahkan mungkin tidak bekerja disini.

Tantangan terbesar

Tantangan terbesar menurut gw adalah bagaimana mengkomunikasikan kesulitan yang gw hadapi, atau kendala yang sekiranya akan gw hadapi ketika datang sebuah permintaan dari pihak non-teknis.

Akan sangat membantu apabila orang-orang non-teknis ini mengerti atau setidaknya pernah membuat program. Tapi sayangnya copywriter menulis artikel, sementara gw menulis program, dua hal yang berbeda tapi dalam pembuatannya sama-sama di”tulis”.

Tapi diluar itu semua, gw merasa tertantang, gw jadi bisa melihat suatu hal dari sisi berbeda. Gw harus meningkatkan skill komunikasi gw, karena ada slogan yang mengatakan bahwa, “seorang programmer yang baik adalah programmer yang bisa mengkomunikasikan program yang sedang dikembangkannya dengan orang-orang.”

Gw juga termotivasi untuk menjadi seorang ahli metafor, yakni seorang yang ahli menggambarkan sesuatu dengan analogi sederhana.

Misalkan begini : “Gw seorang programmer itu ibarat seseorang yang bekerja di saluran air bawah tanah, orang-orang yang ada dipermukaan itu atasan gw. Gw tau kondisi dibawah tanah tapi yang di permukaan karena tidak pernah kebawah jadi tidak tahu kondisinya bagaimana, syukur-syukur dari mereka ada yang pernah masuk kebawah tanah.”

“Seorang programmer yang baik adalah programmer yang bisa mengkomunikasikan program yang sedang dikembangkannya dengan baik.”

Tinggalkan komentar

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.