Setahun Pengalaman Kerja di Harian Kompas

Tak terasa sudah setahun lebih semenjak gw interview di Kompas Gramedia. Gw ditempatkan di divisi bisnis, iklan Harian Kompas. Sesuai namanya, bagian ini bertanggung jawab mendulang uang bagi koran Kompas. Berikut sepenggal pengalaman setahun kerja di Harian Kompas.

Dealing with Generation Gap

Satu hal pasti yang bakal dihadapi ketika kerja di perusahaan yang udah puluhan tahun berdiri adalah perbedaan generasi. Beda dengan startup-startup baru yang dominan generasi Y dan Z, generasi X masih ada disini. Meskipun sekarang gen Y juga sudah mulai banyak.

Gw baru ingat, ketika di interview pun gw ditanyakan ini, “bagaimana dirimu menghadapi rekan kerja yang lebih tua dari dirimu?”. Ya, yang jelas, harus menghormati yang lebih tua.

Yang namanya bagian iklan ada bagian Sales yang diisi Account Executive. Ya, bagian inilah yang paling banyak milenialnya. Sementara gw di produksi, yang paling banyak ternyata generasi “kolonial”.

Nginap di kantor

Sebagai calon karyawan baru, gw bersama rekan-rekan satu batch diajak nginep di kantor untuk melihat keseluruhan proses bisnisnya. Dimulai dari malam harinya melihat proses cetak pelat, sampai jam 03.00 pagi ke percetakan melihat mesin-mesin cetak yang besar dan panas, lalu terakhir di buntel untuk dikirim ke loper koran.

Bus sudah disiapkan untuk menuju loper koran yang sedari subuh udah sibuk ngebuka buntelan koran yang baru dicetak, lalu dipaketin ke lembaran-lembaran yang siap dijual seharga Rp 4.500.

Lingkungan kerja di harian kompas

setahun bekerja di harian kompas, gedung iklan kompas (streetview)
Gedung iklan kompas. (src: Street View)

Gedung tempat gw kerja pas gw masuk adalah di seberang Unit II Kompas Palmerah. Namanya gedung iklan, sekarang sudah ditempatkan oleh Dyandra, which is milik grup Kompas Gramedia.

Jam kerjanya office hour, kalau gw dapatnya 09.30 – 18.30, Senin-Jumat. Jadi yang biasa bangun pagi sekarang bisa bangun lebih siang. Dan karena gw tinggal di kebon jeruk, pulang-pergi rumah sama sekali bukan masalah.

Gimana dengan fasilitasnya? Meja kerjanya lega, dengan huruf L lengkap dengan laci pribadi. Untuk urusan “perangkat tempur”, sang manajer memberikan gw opsi, mau laptop atau PC? Gw jawab PC.

Setelah dua minggu, PCnya datang, sebuah PC rakitan dengan spek: Prosesor Core i7 6700k, RAM 16GB, VGA nVidia Geforce GTX950, HDD 3TB dan LCD 24″, I never asked for this

Enough with the pleasure

This is where the challenge begin. Biarpun dari sisi lingkungan, semua saling menghormati dan kekeluargaan begitu kental, tapi dari segi pekerjaan, gw ibarat memulai startup didalam perusahaan. Yang berarti membawa kultur baru bagi perusahaan.

Karena sejatinya Harian Kompas adalah koran cetak, kompas.id berupa digital, artinya bakal ada penyesuaian dengan cara kerjanya. Bila yang cetak masih dipegang oleh orang-orang gen X, yang digital dipegang oleh yang muda-muda, ya seperti gw ini.

Perubahan yang dihadapi Kompas adalah: Dari cetak ke digital, dari tua ke muda, dari lambat hingga cepat. Tidak bisa terburu-buru dalam mengambil keputusan. Karena butuh penyesuaian dan pembaruan dari kultur yang sudah melekat selama puluhan tahun.

Digital Disruption merupakan tantangan terbesar bagi perusahaan media seperti Kompas. Seperti apa kita bergerak di tengah terpaan badai digital ini? Sepertinya setahun kerja di harian kompas belum cukup, cerita ini bakal gw lanjutkan di kemudian hari.

See you in the next part…

2 Balasan untuk “Setahun Pengalaman Kerja di Harian Kompas”

    1. Halo mas Aries,
      Lebih tepatnya, pas awal diterima itu saya tidak bisa menentukan bakal ditempatkan di divisi mana, jadi ngikut saja 😀

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.